Sabtu, 27 April 2013

JKT48, Semangatku!


Sore itu, seperti biasanya aku hanya mendengarkan musik di kamarku. Minggu sore memang selalu menjadi waktu yang begitu membosankan, terutama akhir-akhir ini.
Tiba-tiba handphoneku berbunyi, dengan sigap aku beranjak dari kasurku dan mengambilnya di meja.
`“Selama ini aku selalu berusaha memahamimu, Ichsan. tapi kamu pun tidak pernah berubah!Jika memang ini yang terbaik, maaf mungkin lebih baik kita berpisah.”
Deg! Aku diam terpaku membaca SMS itu, SMS dari seseorang yang sebenarnya sangat aku cintai. Kurasakan hatiku berdegup kencang, tanganku gemetaran. Bahkan aku pun tak sanggup membalas SMS yang terlalu tiba-tiba itu. Aku hanya bisa menangis dalam diam.
***
“Hey, san! Sedang apa kamu? Seperti orang yang kehilangan nyawa saja.” Sapa temanku - bondan - ketika aku sedang duduk termenung sendirian.
“Tidak, aku hanya sedang melamun saja”
“Kamu ini, sudah 1 bulan berlalu masih saja memikirkan hal itu. Sudah lupakan saja!”
Aku tak mampu menjawab perkataannya, aku juga tidak habis pikir mengapa aku masih belum bisa melupakannya.
“Nih, daripada kamu galau mulu aku tunjukkin kamu sesuatu.”
“Apa?” dia pun merogoh saku celananya.
“Lihat, cantik-cantik kan mereka. Haha.”
“Sialan kamu, bon! Siapa mereka? Girlband pasti.”
“Bukan! Masa kamu tidak tahu sih, ketinggalan jaman kamu.” Ejeknya.
“Emang aku tidak tahu kok, siapa sih mereka?”
“Ini member JKT48.”
“Ohh, girlband baru pasti. Kamu mulai suka girlband?”
“sudah kubilang ini bukan girlband, ini idol group. Beda banget lah sama girlband. Lebih jelasnya kamu baca artikelku ini aja.” Dia memberiku sebendel kertas.
“Tidak perlu, aku sedang tidak bersemangat.” Jawabku asal.
“Ayolah, kamu pasti menyukainya! Percaya sama aku. Daripada tidak ada kerjaan lebih baik kamu baca ini dulu. Oke? Wajib dibaca!”
Bondan pergi begitu saja setelah ia memaksaku untuk menerima artikelnya, padahal sebenarnya aku tidak tertarik dengan yang tadi ia tunjukkan.
***
Malam harinya, aku masih saja melamun di dalam kamar. Diriku sendiri mulai bosan dengan rutinitasku yang hanya itu-itu. Lalu aku lirik artikel bondan yang aku taruh di atas meja belajarku. Ku putuskan saja untuk membaca artikel tersebut sambil mendengarkan musik.
            “Hmm, jadi seperti ini JKT48. Memang ada perbedaannya sih dengan girlband.” Gumamku ketika setengah dari artikel tersebut kubaca.
Kemudian aku lihat foto-foto member JKT48 beserta biodatanya.
            “Wah, gila! Yang ini masih muda banget. Kelahiran tahun 1999, seumuran dengan adikku dong.”
Aku terheran-heran ketika membaca tanggal lahir salah satu member JKT48 yang ternyata umurnya masih seumur jagung. Namanya Nabilah Ratna Ayu Azalia, aku pikir dia masih terlalu kecil untuk menjadi seorang idol. Tapi wajahnya yang imut dan lucu membuatku ingin lebih tahu lagi tentangnya. Benar juga kata bondan, aku bisa saja menghabiskan waktu malamku dengan mempelajari lebih lanjut tentang JKT48 ini.
Keesokan harinya aku bertemu bondan di lobby sekolah, langsung saja aku hampiri dia yang tampak sibuk dengan handphonenya.
            “Hey, Bon!” sapaku
            “Hey, gimana? Sudah kamu baca artikelku?”
            “Sudah, kamu benar juga. Tadi malam aku sibuk membaca artikelmu, dan aku mulai tertarik dengan member yang satu ini.”Kutunjukkan foto member yang aku kagumi itu.
            “Ohh, ini namanya Nabilah.”
            “Iya, aku juga sudah baca kali. Imut banget ya?”
            “Kemarin kayaknya kamu tidak sesemangat ini deh.”
Aku sempat terkejut mendengar perkataan Bondan. Aku baru sadar jika aku begitu semangat hari ini, tidak seperti hari-hari sebelumnya. Bahkan karena sesuatu yang belum aku kenal sebelumnya.
            “Aku punya beberapa lagu dan videonya, jika ingin tahu datang saja ke rumahku pulang sekolah nanti.” Ajaknya.
            “Oke, nanti bisa.”
            “Tapi urunan buat beli makanan ya, ortuku ke luar kota jadi tidak ada makanan di rumah.”
            “Aku tidak punya uang.”
            “Ya kamu mau nonton atau tidak?”
Ahh, sial. Lagi-lagi aku harus menurut apa kata Bondan, kadangkala dia memang begitu ketika menginginkan sesuatu. Jika tidak memaksa buat urunan ya maksa buat nemenin.
Tapi kali ini tak apalah, lagipula agar aku lebih tahu tentang JKT48.
***
“Mana? Katanya sudah punya lagunya JKT48?” Tanyaku ketika sesampainya di rumah Bondan. Sejujurnya aku penasaran banget dengan hal ini, terlebih ketika aku sadar bahwa mungkin hal ini bisa membantuku mengisi hariku kembali.
“Sebentar, baru sampai juga. Tuh ada di Laptop, masuk aja ke kamar. Cari folder 48family.”
Segera setelah aku melepas sepatu masuk ke kamarnya dan menyalakan laptop. Sedangkan Bondan ke dapur ambil minuman.
            “Ini kok ada macam-macam, Bon. Ada AKB48, SKE48, NMB48, apa sih ini?” teriakku dari dalam kamar yang terheran-heran karena ternyata 48 ada berbagai macam.
            “Itu sister-groupnya JKT48.” Jawabnya sambil membawa minuman dan makanan ringan ke dalam kamar.
            “Kamu buka yang JKT48 dulu saja, di situ ada beberapa lagu dan video. Coba dengarkan lagunya sonichi.”
Aku menurut saja apa yang di katakannya, kemudian aku putar lagunya.
            “Impian ada di tengah peluh, bagai bunga yang mekar secara perlahan. Usaha keras itu tak akan mengkhianati. Impian ada di tengah peluh,selalu menunggu agar dia menguncup. Suatu hari pasti sampai harapan terkabul.”
Sejenak aku terdiam ketika mendengarkan lagu ini, terutama pada lirik itu. Kemudian aku ulangi dan ulangi lagi lagu ini. Sejenak aku bisa merasakan jiwa yang ada pada lagu ini.
            “Kamu benar, Bon. Lagunya enak sekali didengarkan.”
            “Sudah kubilang bukan?”
Semenjak itu, aku mulai suka dengan JKT48. Bahkan mungkin lebih pantas dibilang cinta. Karena lagu sonichi aku sadar, bahwa seseorang harus berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan hal yang diinginkan. Sekecil apapun itu harus tetap diperjuangkan, tak boleh didiamkan saja dan pasrah dengan keadaan. Dan kini, hariku pun telah kembali. Aku tak ingin hanya melamun saja dan terpuruk dalam keadaan yang mengenaskan. Aku harus kembali menatap masa depanku, suatu hari pasti harapanku terkabul. Terimakasih JKT48.

Dua Hari


“Ahh, menyebalkan!” gumamku.
Seharusnya aku bisa menggambar lagi di taman hari ini, tapi tiba-tiba saja ada orang yang menempati bangku yang biasa aku duduki. Tadinya aku sudah meminta dengan baik-baik untuk memintanya mencari bangku lain, namun dia malah menolaknya dengan keras.
            “Apa hakmu mengusirku dari sini!? Bukankah di sini ada puluhan bangku? Mengapa tidak cari bangku lain saja?”
            Dengan berat hati akupun menyerahkan bangku kesayanganku itu ke orang lain yang bahkan aku tidak tahu namanya.
***
Beberapa hari selanjutnya ia terus berada di bangku itu, ia selalu sampai lebih dulu dan memaksaku duduk di bangku lain. Membuatku tidak bisa nyaman menggambar, namun tiba-tiba ia menghampiriku.
            “Apa bangku itu berarti buatmu hingga menyebabkanmu sangat menginginkannya?”
            “Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?”
            “Aku tidak secuek yang kamu kira, aku selalu memperhatikanmu melangkah ke arah bangku itu, namun aku lebih dulu berada disana.”
Aku tak menyangka ia begitu, tidak seperti yang terlihat oleh mataku.
            “Aku Jhovian.” Ia mengulurkan tangannya.
            “Aku...”
            “Aurelia, bukan? Aku bisa membaca namamu dari seragammu.”
            “Hmm, iya benar.” gumamku.
            “Kamu pandai menggambar rupanya?” ia memperhatikan gambar yang belum aku selesaikan itu.
            “Tidak juga, aku hanya suka mencurahkan apa yang kulihat dan menorehkannya di atas kertas.”
            “Gambarmu benar-benar bagus!” ia mengambil gambarku dari tanganku.
            “Tidak terlalu bagus akhir-akhir ini.”
            “Apa karena kamu tak lagi menggambar di bangku itu?”
Aku kaget mendengar pertanyaannya, aku tidak menyangka ia berpikir sejauh itu.
            “Maaf jika aku merebut bangkumu. Sejujurnya aku juga suka menggambar, memang beberapa orang mempunyai tempat spesial untuk menggambar. Dan akupun juga merasa nyaman di situ.”
            Ia terus memandangku.
            “Baiklah, kamu boleh kembali ke bangku itu tapi dengan satu syarat.”
Aku mengernyitkan dahi.
            “Apa syaratnya?”
            “Adikku sedang sakit, ia memintaku menggambar wajahnya sebagai hadiah ulang tahunnya dua hari lagi. Namun aku hanya mampu menggambar melalui corel draw, sedangkan aku merasa tidak puas dan tidak mampu jika aku menggambar di atas kertas. Jadi, maukah kau menggambar wajah adikku untukku?”
Tampak raut mukanya mulai mendung, matanya sayu.
“Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu.”
“Terimakasih. Ini fotonya adikku. Dia seumuran denganmu. Bisakah kamu menyelesaikannya dalam dua hari?”
“Tentu saja”
“Oke, aku akan menemui lagi. Disini di jam yang sama.”
“Baiklah, aku tunggu”
“Sampai jumpa”
Ia pergi begitu saja dari hadapanku, menghilang di penghujung jalan.
***
Keesokan harinya aku mulai menggambar wajah adiknya, wajah yang sangat cantik menurutku. Seperti yang dijanjikan, aku kembali lagi ke bangkuku semula. Namun ia tidak terlihat datang ke taman.
            “Ahh, mungkin ia sedang menemani adiknya.” Pikirku.
Aku menyelesaikan gambar itu tepat pada waktunya. Aku datang ke taman itu seperti yang telah di janjikan sebelumnya. Selang satu jam, dua jam aku menunggunya, ia tak kunjung datang. Aku mulai resah.
            “Dimana dia sekarang? Apa ia lupa?”
            Sambil menunggu aku mengambil foto adiknya dari tasku. Namun aku terheran-heran ketika menemukan sebuah tulisan di balik foto itu. Bahkan aku baru tahu jika ada tulisan di situ, membuatku tertarik untuk membacanya.
            “Terimakasih, kamu sudah bersedia menggambar wajah adikku untukku. Namun, jika ternyata dua hari lagi aku tak datang menemuimu, mungkin...”
Dan tiba-tiba, pipiku pun terasa basah.

Sepotong Hati di Stasiun Kereta


Aku menatap sepatuku yang sekarangbasah terkena percikan air hujan. Sial! Susah payah tadi pagi aku menyemirnya. Sekarang jadi lusuh begini. Kuraih sebuah tissue di saku kemejaku, dan berusaha mengeringkan sepatuku. Sedikit membantu.
            ”Hai,Nay!”
            Aku mencari sumber suara, tak lagi memedulikan nasib sepatuku. Seorang gadis dengan mantel bulu berwarna cokelat dan sepatu boots berwarna senada melambaikan tangan ke arahku.
”Hai!” balasku .Aku melambaikan tanganku seraya tersenyum.
Namanya Grita. Ia kini mendekat dan berdiri di sebelahku. Berkali-kali ia lirik jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangan kirinya.
”Kita hampirtelat,” katanya kemudian.
”Oh...,” jawabkumengambang.
”Kok cuma ’oh’,sih? Aku tidak sepertimu yang biasa telat,” ledeknya.
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Lima detik kemudian sebuah kereta tampak dari kejauhan. Sambil melonjak kegirangan, Grita menatapku.
”Kita tidak jadi telat!”
Kini Gritaberjalan menuju kereta dan menggandeng tanganku—lebih tepatnya setengah menyeretku. Ku tepis tangannya dan berjalan kembali ke tempatku semula.
”Aku nanti saja,Grit.”
”Hei, mungkin ini kereta terakhir sebelum bel masuk berbunyi, lho!” protesnya.
Aku menunduk lesu. Mungkin Grita sudah mengerti maksudku, karena setelah itu ia masuk kekereta tanpa menghiraukanku lagi.
Kereta perlahanmulai berjalan. Aku merelakan kereta terakhirku. Kulambaikan tangan padanya yang kini ada di balik jendela dengan wajah protesnya, seolah tidak ingin akulagi-lagi terlambat.
”Ah, kenapa belum juga datang?” gumamku. Entah kenapa, aku kini mulai mengkhawatirkan keterlambatanku yang sudah kesekian kalinya. Tidak ada lagi anak berpakaian seragam menunggu di stasiun. Cuma aku, dan sesosok pemuda yang duduk dibelakangku.
Sambil merutuki nasibku sendiri, aku duduk di kursi tempatku biasa menunggu. Siapa sih, orangbodoh yang mau menunggu setiap hari di stasiun kereta lebih dari dua jam? Siapa sih, orang bodoh yang rela terlambat sekolah dan dihukum membersihkan toilet?Ya, itu semua aku. Jawabannya adalah aku!
Di tengah dinginnya hujan, mataku kini tertuju pada seorang pemuda yang kini berlari kearahku. Ia menyunggingkan senyum di bibir tipisnya. Ke arahku pula! Tunggu sebentar, dia...
Aku mengarahkan telunjuk ke wajahku. Seperti ingin berkata, kau tersenyum padaku?
Benarkah dia? Dia yang selama ini telah... benarkah ia menyadari keberadaanku? Mataku kini membulat, dan kurasa pipiku kini memerah. Saking kaget setengah tidak percaya, membalas senyumnya pun rasanya sulit.
            Aku bangkit berdiri. Seakan tak peduli percikan air hujan yang kini semakin deras dan membasahi rokku. Aku berdiri, seakan siap menyambutnya. Dan apa yangterjadi? Dia..., dia bukan tersenyum untukku. Lebih tepatnya, dia tidak menyadari keberadaanku. Dia berjalan melewatiku dan menghampiri seorang pemud ayang duduk di belakangku. Sambil menunduk malu, aku menoleh ke belakang.
            Aku kini tak menghiraukan derasnya air hujan yang seakan menghantam apa pun yangada di bawahnya, termasuk aku. Aku berjalan keluar stasiun. Aku tidak inginnaik kereta hari ini. Payung yang kukenakan pun tak cukup membantu, pipikutetap basah. Ah, bukan saatnya menyalahkan payung karena airmataku sendiri.
            Kereta kini berjalan pelan dan berhenti. Pemuda itu masuk bersama sahabatnya. Aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan.
            ”Kau Naya? Sekolah kita searah, kenapa kita tidak berangkat bersama?”
            Ah,kalimat itu seakan kalimat yang paling ingin kudengar darinya. Dari pemuda itu.Dari Jhovian, kakak Grita.