Senin, 29 April 2013

Tips Kirim Cerpen ke Majalah

Karena ada teman di twitter yang melemparkan pertanyaan tentang bagaimana menulis cerpen ke media massa, saya jadi tertarik untuk membagikan apa yang pernah saya dapatkan dari sebuah kelas penulisan cerpen, dari ‘curhat’ seorang pemimpin redaksi majalah wanita muda terkenal, juga ditambah dari pengalaman pribadi. Berikut ini apa yg sudah saya tulis di twitter dan saya rangkum mengenai tips kirim cerpen ke majalah.
1. Menurut seorang pemimpin redaksi majalah wanita, tiap hari redaksi bisa menerima ratusan naskah cerpen, dan hal pertama yg dilihat adalah judulnya.
2. Kalau dari judulnya sudah dianggap tidak menarik oleh redaksi, maka akan langsung di delete tanpa dibaca lagi isi naskahnya.
3. Setelah dilihat judulnya menarik, baru akan dibaca oleh redaksi. Dan yang menentukan bahwa naskah itu bagus atau tidak, bisa dilihat dari paragraf pertama saja. Kalau sudah dirasa tidak menarik, ya tidak akan dibaca sampai habis, alhasil itu naskah akan di delete juga.
4. The key is in the first paragraph, it has to be ‘wow’ / kuncinya ada di paragraf pertama, harus bisa membuat kagum redaksi.
5. Naskah yang kita kirim tidak langsung dibalas dan diberi tahu masuk atau tidak. Kadang bisa dari sebulan sampai tiga bulan bari dikasi kabar, dan ada juga lho yang tidak pernah dibalas, ya artinya tidak diterima.
6. Kalau misal cerpen kita diterima, pasti dikasi kabar oleh redaksi lewat email atau telpon bahwa cerpen kita masuk dan mereka akan memastikan terlebih dahulu apakah cerpen itu belum pernah diterbitkan di media manapun. Karena ada kasus juga dimana penulis mengirimkan satu cerpen ke dua media sekaligus, ternyata di satu media sudah diterbitkan tapi belum dikasi kabar, dan di media yang satu lagi mau diterbitkan juga, ini akan menimbulkan masalah, karena setiap media pasti inginnya naskah itu belum pernah diterbitkan sebelumnya.
7. Maka itu untuk meminimalisasi kemungkinan naskah kita jadi ‘rebutan’ , lebih baik kita mengirimkan satu naskah ke satu media saja dan menunggu selama 3 bulan sampai ada kabar jelas diterima atau tidak naskah kita. Baru setelah itu kita bisa kirim ke media yang lain.
8. Dan setelah cerpen kita diterima, biasanya akan langsung di transfer honornya ke rekening kita yang sudah kita lampirkan bersama naskah kita. Maka itu jangan lupa untuk mencantumkan keterangan/data lengkap pribadi kita, seperti nama, nmr. telpon, rekening.
9. Untuk media majalah remaja, yang menurut saya dan beberapa teman yang paling sulit seleksinya adalah majalah GADIS. Karena penggunaan kalimat baku sangat diperhatikan, juga tema dari cerita.
10. Untuk majalah wanita muda, majalah CHIC adalah salah satu majalah yang bagus – bagus cerpennya, juga cukup selektif. Sedangkan untuk majalah wanita dewasa, majalah FEMINA menurut saya masih di ranking pertama yang menjadi acuan sebagai media yang menerbitkan cerpen – cerpen bagus dan bermutu. Maka itu persaingannya juga tinggi dan selektif.

Profesi penulis cerpen/cerpenis masih menjadi salah satu profesi yang banyak diminati sekarang ini, intinya jangan berhenti menulis dan mengirimkannya, sekalipun sering ditolak :p , suatu saat kita akan diterima dengan terus mengirimkan dan belajar dari banyak membaca cerpen – cerpen juga. Ohya jangan lupa dalam setiap email yang kita kirimkan buat surat pengantar juga ya dengan kata – kata yang bagus memperkenalkan diri kita dulu dan setidaknya sedikit cerita dari naskah cerpen yang kita ajukan. Berikut contoh surat yang pernah saya buat :
 
 
Dear Redaksi Femina,
Nama saya Maya Melivyanti dari Bandung. Saya adalah seorang ibu muda yang menantikan kehadiran bayi saya, juga pengusaha kecil-kecilan dari rumah, memang suka menulis semenjak saya muda. Tulisan saya sudah pernah dimuat berbagai kumpulan cerita, yang paling terakhir adalah di buku The Coffeshop Chronicles, terbitan ByPass, juga sudah masuk di Femina edisi 38 tahun lalu.
Melalui surat ini saya ingin mengajukan tulisan cerpen saya yang berjudul ‘Soraya’. Kisahnya mengenai : (ceritakan sedikit inti cerita).
Besar harapan saya agar tulisan ini bisa diterima, terima kasih atas perhatiannya, berikut saya cantumkan juga keterangan data pribadi.
Nama: Maya Melivyanti
Tmpt/tgl lahir:
Alamat:
Nmr. Hp:
Nmr. Rek:
Salam,
Maya Melivyanti
 

Sabtu, 27 April 2013

JKT48, Semangatku!


Sore itu, seperti biasanya aku hanya mendengarkan musik di kamarku. Minggu sore memang selalu menjadi waktu yang begitu membosankan, terutama akhir-akhir ini.
Tiba-tiba handphoneku berbunyi, dengan sigap aku beranjak dari kasurku dan mengambilnya di meja.
`“Selama ini aku selalu berusaha memahamimu, Ichsan. tapi kamu pun tidak pernah berubah!Jika memang ini yang terbaik, maaf mungkin lebih baik kita berpisah.”
Deg! Aku diam terpaku membaca SMS itu, SMS dari seseorang yang sebenarnya sangat aku cintai. Kurasakan hatiku berdegup kencang, tanganku gemetaran. Bahkan aku pun tak sanggup membalas SMS yang terlalu tiba-tiba itu. Aku hanya bisa menangis dalam diam.
***
“Hey, san! Sedang apa kamu? Seperti orang yang kehilangan nyawa saja.” Sapa temanku - bondan - ketika aku sedang duduk termenung sendirian.
“Tidak, aku hanya sedang melamun saja”
“Kamu ini, sudah 1 bulan berlalu masih saja memikirkan hal itu. Sudah lupakan saja!”
Aku tak mampu menjawab perkataannya, aku juga tidak habis pikir mengapa aku masih belum bisa melupakannya.
“Nih, daripada kamu galau mulu aku tunjukkin kamu sesuatu.”
“Apa?” dia pun merogoh saku celananya.
“Lihat, cantik-cantik kan mereka. Haha.”
“Sialan kamu, bon! Siapa mereka? Girlband pasti.”
“Bukan! Masa kamu tidak tahu sih, ketinggalan jaman kamu.” Ejeknya.
“Emang aku tidak tahu kok, siapa sih mereka?”
“Ini member JKT48.”
“Ohh, girlband baru pasti. Kamu mulai suka girlband?”
“sudah kubilang ini bukan girlband, ini idol group. Beda banget lah sama girlband. Lebih jelasnya kamu baca artikelku ini aja.” Dia memberiku sebendel kertas.
“Tidak perlu, aku sedang tidak bersemangat.” Jawabku asal.
“Ayolah, kamu pasti menyukainya! Percaya sama aku. Daripada tidak ada kerjaan lebih baik kamu baca ini dulu. Oke? Wajib dibaca!”
Bondan pergi begitu saja setelah ia memaksaku untuk menerima artikelnya, padahal sebenarnya aku tidak tertarik dengan yang tadi ia tunjukkan.
***
Malam harinya, aku masih saja melamun di dalam kamar. Diriku sendiri mulai bosan dengan rutinitasku yang hanya itu-itu. Lalu aku lirik artikel bondan yang aku taruh di atas meja belajarku. Ku putuskan saja untuk membaca artikel tersebut sambil mendengarkan musik.
            “Hmm, jadi seperti ini JKT48. Memang ada perbedaannya sih dengan girlband.” Gumamku ketika setengah dari artikel tersebut kubaca.
Kemudian aku lihat foto-foto member JKT48 beserta biodatanya.
            “Wah, gila! Yang ini masih muda banget. Kelahiran tahun 1999, seumuran dengan adikku dong.”
Aku terheran-heran ketika membaca tanggal lahir salah satu member JKT48 yang ternyata umurnya masih seumur jagung. Namanya Nabilah Ratna Ayu Azalia, aku pikir dia masih terlalu kecil untuk menjadi seorang idol. Tapi wajahnya yang imut dan lucu membuatku ingin lebih tahu lagi tentangnya. Benar juga kata bondan, aku bisa saja menghabiskan waktu malamku dengan mempelajari lebih lanjut tentang JKT48 ini.
Keesokan harinya aku bertemu bondan di lobby sekolah, langsung saja aku hampiri dia yang tampak sibuk dengan handphonenya.
            “Hey, Bon!” sapaku
            “Hey, gimana? Sudah kamu baca artikelku?”
            “Sudah, kamu benar juga. Tadi malam aku sibuk membaca artikelmu, dan aku mulai tertarik dengan member yang satu ini.”Kutunjukkan foto member yang aku kagumi itu.
            “Ohh, ini namanya Nabilah.”
            “Iya, aku juga sudah baca kali. Imut banget ya?”
            “Kemarin kayaknya kamu tidak sesemangat ini deh.”
Aku sempat terkejut mendengar perkataan Bondan. Aku baru sadar jika aku begitu semangat hari ini, tidak seperti hari-hari sebelumnya. Bahkan karena sesuatu yang belum aku kenal sebelumnya.
            “Aku punya beberapa lagu dan videonya, jika ingin tahu datang saja ke rumahku pulang sekolah nanti.” Ajaknya.
            “Oke, nanti bisa.”
            “Tapi urunan buat beli makanan ya, ortuku ke luar kota jadi tidak ada makanan di rumah.”
            “Aku tidak punya uang.”
            “Ya kamu mau nonton atau tidak?”
Ahh, sial. Lagi-lagi aku harus menurut apa kata Bondan, kadangkala dia memang begitu ketika menginginkan sesuatu. Jika tidak memaksa buat urunan ya maksa buat nemenin.
Tapi kali ini tak apalah, lagipula agar aku lebih tahu tentang JKT48.
***
“Mana? Katanya sudah punya lagunya JKT48?” Tanyaku ketika sesampainya di rumah Bondan. Sejujurnya aku penasaran banget dengan hal ini, terlebih ketika aku sadar bahwa mungkin hal ini bisa membantuku mengisi hariku kembali.
“Sebentar, baru sampai juga. Tuh ada di Laptop, masuk aja ke kamar. Cari folder 48family.”
Segera setelah aku melepas sepatu masuk ke kamarnya dan menyalakan laptop. Sedangkan Bondan ke dapur ambil minuman.
            “Ini kok ada macam-macam, Bon. Ada AKB48, SKE48, NMB48, apa sih ini?” teriakku dari dalam kamar yang terheran-heran karena ternyata 48 ada berbagai macam.
            “Itu sister-groupnya JKT48.” Jawabnya sambil membawa minuman dan makanan ringan ke dalam kamar.
            “Kamu buka yang JKT48 dulu saja, di situ ada beberapa lagu dan video. Coba dengarkan lagunya sonichi.”
Aku menurut saja apa yang di katakannya, kemudian aku putar lagunya.
            “Impian ada di tengah peluh, bagai bunga yang mekar secara perlahan. Usaha keras itu tak akan mengkhianati. Impian ada di tengah peluh,selalu menunggu agar dia menguncup. Suatu hari pasti sampai harapan terkabul.”
Sejenak aku terdiam ketika mendengarkan lagu ini, terutama pada lirik itu. Kemudian aku ulangi dan ulangi lagi lagu ini. Sejenak aku bisa merasakan jiwa yang ada pada lagu ini.
            “Kamu benar, Bon. Lagunya enak sekali didengarkan.”
            “Sudah kubilang bukan?”
Semenjak itu, aku mulai suka dengan JKT48. Bahkan mungkin lebih pantas dibilang cinta. Karena lagu sonichi aku sadar, bahwa seseorang harus berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan hal yang diinginkan. Sekecil apapun itu harus tetap diperjuangkan, tak boleh didiamkan saja dan pasrah dengan keadaan. Dan kini, hariku pun telah kembali. Aku tak ingin hanya melamun saja dan terpuruk dalam keadaan yang mengenaskan. Aku harus kembali menatap masa depanku, suatu hari pasti harapanku terkabul. Terimakasih JKT48.

Dua Hari


“Ahh, menyebalkan!” gumamku.
Seharusnya aku bisa menggambar lagi di taman hari ini, tapi tiba-tiba saja ada orang yang menempati bangku yang biasa aku duduki. Tadinya aku sudah meminta dengan baik-baik untuk memintanya mencari bangku lain, namun dia malah menolaknya dengan keras.
            “Apa hakmu mengusirku dari sini!? Bukankah di sini ada puluhan bangku? Mengapa tidak cari bangku lain saja?”
            Dengan berat hati akupun menyerahkan bangku kesayanganku itu ke orang lain yang bahkan aku tidak tahu namanya.
***
Beberapa hari selanjutnya ia terus berada di bangku itu, ia selalu sampai lebih dulu dan memaksaku duduk di bangku lain. Membuatku tidak bisa nyaman menggambar, namun tiba-tiba ia menghampiriku.
            “Apa bangku itu berarti buatmu hingga menyebabkanmu sangat menginginkannya?”
            “Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?”
            “Aku tidak secuek yang kamu kira, aku selalu memperhatikanmu melangkah ke arah bangku itu, namun aku lebih dulu berada disana.”
Aku tak menyangka ia begitu, tidak seperti yang terlihat oleh mataku.
            “Aku Jhovian.” Ia mengulurkan tangannya.
            “Aku...”
            “Aurelia, bukan? Aku bisa membaca namamu dari seragammu.”
            “Hmm, iya benar.” gumamku.
            “Kamu pandai menggambar rupanya?” ia memperhatikan gambar yang belum aku selesaikan itu.
            “Tidak juga, aku hanya suka mencurahkan apa yang kulihat dan menorehkannya di atas kertas.”
            “Gambarmu benar-benar bagus!” ia mengambil gambarku dari tanganku.
            “Tidak terlalu bagus akhir-akhir ini.”
            “Apa karena kamu tak lagi menggambar di bangku itu?”
Aku kaget mendengar pertanyaannya, aku tidak menyangka ia berpikir sejauh itu.
            “Maaf jika aku merebut bangkumu. Sejujurnya aku juga suka menggambar, memang beberapa orang mempunyai tempat spesial untuk menggambar. Dan akupun juga merasa nyaman di situ.”
            Ia terus memandangku.
            “Baiklah, kamu boleh kembali ke bangku itu tapi dengan satu syarat.”
Aku mengernyitkan dahi.
            “Apa syaratnya?”
            “Adikku sedang sakit, ia memintaku menggambar wajahnya sebagai hadiah ulang tahunnya dua hari lagi. Namun aku hanya mampu menggambar melalui corel draw, sedangkan aku merasa tidak puas dan tidak mampu jika aku menggambar di atas kertas. Jadi, maukah kau menggambar wajah adikku untukku?”
Tampak raut mukanya mulai mendung, matanya sayu.
“Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu.”
“Terimakasih. Ini fotonya adikku. Dia seumuran denganmu. Bisakah kamu menyelesaikannya dalam dua hari?”
“Tentu saja”
“Oke, aku akan menemui lagi. Disini di jam yang sama.”
“Baiklah, aku tunggu”
“Sampai jumpa”
Ia pergi begitu saja dari hadapanku, menghilang di penghujung jalan.
***
Keesokan harinya aku mulai menggambar wajah adiknya, wajah yang sangat cantik menurutku. Seperti yang dijanjikan, aku kembali lagi ke bangkuku semula. Namun ia tidak terlihat datang ke taman.
            “Ahh, mungkin ia sedang menemani adiknya.” Pikirku.
Aku menyelesaikan gambar itu tepat pada waktunya. Aku datang ke taman itu seperti yang telah di janjikan sebelumnya. Selang satu jam, dua jam aku menunggunya, ia tak kunjung datang. Aku mulai resah.
            “Dimana dia sekarang? Apa ia lupa?”
            Sambil menunggu aku mengambil foto adiknya dari tasku. Namun aku terheran-heran ketika menemukan sebuah tulisan di balik foto itu. Bahkan aku baru tahu jika ada tulisan di situ, membuatku tertarik untuk membacanya.
            “Terimakasih, kamu sudah bersedia menggambar wajah adikku untukku. Namun, jika ternyata dua hari lagi aku tak datang menemuimu, mungkin...”
Dan tiba-tiba, pipiku pun terasa basah.